Museum Geologi, Mengungkap Sejarah Kehidupan di Bumi

Museum Geologi dibangun selama satu tahun, dimulai pada tahun 1928 dan selesai pada tahun 1929.

Desain bangunan museum yang dirancang oleh arsitek Menalda van Schouwenburg ini, terdiri dari dua lantai, di lantai pertama yang diberi judul "Sejarah Kehidupan Dalam Skala Waktu Geologi", di ruangan ini pengunjung diajak mengetahui sejarah singkat terbentuknya bumi dan sejarah kehidupan mahluk hidup di bumi dalam bentuk grafis dan sisa peninggalan sejarah seperti fosil kayu, hewan purba seperti Tyrannosaurus Rex Osborn (kadal yang kejam) dengan tinggi 6,5 meter dan panjang 14 meter serta berat 8 ton.

Sedangkan lantai dua memiliki dua ruangan, yaitu di sayap kanan berjudul "Geologi dan Kehidupan Manusia : Manfaat dan Bencana Geologi"  di sini pengunjung disuguhi berbagai pemanfaatan dari kandungan yang ada di dalam perut bumi dari masa ke masa dalam kehidupan manusia. Seperti alur pengolah minyak bumi dari mulai diolah menjadi premium, solar, aspal, pelumas mesin, lilin, dan lain-lain. Selain itu, pengunjung juga harus waspada dengan bencana yang bisa ditimbulkan dari bumi tempat kita hidup, yaitu seperti bencana gempa, tanah longsor, tsunami, dan gunung meletus, di ruangan ini pengunjung bisa mencoba simulasi gempa dan akibat dari bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi dengan menyuguhkan barang-barang yang terkena letusan Gunung Merapi, pada tahun 2010 silam.

Sementara di sayap kiri yang berjudul "Sumber Daya Geologi", pengunjung disuguhi berbagai pembagian sumber daya geologi dari mulai sumber daya mineral, sumber daya energi, sampai dengan sumber daya air. Ingin menjelajah Museum Geologi  yang berada Jln Diponegoro No. 57, catat jadwal bukanya pada Senin – Kamis, pukul 08.00 – 16.00 WIB atau Sabtu – Minggu, pukul 08.00 – 14.00 WIB, dengan membayar tiket masuk  untuk pelajar / mahasiswa  Rp 2.000, umum Rp 3.000, dan pengunjung / pelajar asing  Rp 10.000.